Ini resensi yang aku buat dan jadi juara 3 di lomba resensi novel ini, yang diadain Gramedia.
Resensi Istana Kedua.
“POTRET RATU ISTANA KEDUA”
Judul Karya Resensi : “Potret Ratu Istana Kedua”
Judul Buku : Istana Kedua
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Harga : Rp. 29.000
Tebal : 243 halaman
“Resensi “Istana Kedua”, Asma Nadia : “Potret Ratu Istana Kedua”,
Diperoleh kesan mendalam tentang Mei Rose, si Ratu Istana Kedua. Kesan yang memberi wawasan baru bagi pembaca mengenai para wanita yang menjadi penguasa Istana Kedua.
Novel dewasa karya Asma Nadia ini bercerita tentang kehidupan perkawinan Arini dan Pras. Kehidupan perkawinan yang terasa mulus oleh Arini ternyata dikhianati Pras. Tragisnya, pengkhianatan itu sudah terjadi beberapa tahun terakhir, tanpa diketahui Arini. Ada wanita lain yang menjadi belahan hati Pras, yaitu istri ke dua Pras. Dialah Mei Rose. Perempuan yang hidupnya penuh derita sekaligus sosok wanita kuat dan “tak berperasaan”.
Pemaparan alur cerita unik dengan tokoh sentral yang diceritakan berganti-ganti antara tiga tokoh utama; Arini, Pras dan Mei Rose pada tiap-tiap bab. Cara Asma menceritakan latar belakang kehidupan masing-masing tokoh, lengkap dengan masalahnya masing-masing, tidak membosankan dengan campuran flash back dan narasi. Selain itu Asma pun bertutur dengan sangat variatif. Asma, dengan cantik, menyelipkan penuturan yang seolah-olah merupakan hasil survey. Di lain waktu, Asma menggambarkan kejadian melalui analogi sebuah film (halaman 198), dan menyampaikan suatu topik melalui surat elektronik .Keseluruhan variasi membuat novel ini berbeda dari buku-buku novel dewasa lainnya yang cenderung menggunakan satu sampai tiga macam gaya bertutur. Bahkan dibandingkan buku-buku Asma lainnya, gaya menulis Asma di novel ini berbeda dengan cara di novelnya yang lain .
“Istana Kedua” membuktikan bahwa Asma adalah penulis serba bisa yang mampu menyesuaikan gaya menulisnya dengan segmen tujuan buku yang dihasilkan. Target buku ini jelas untuk pembaca dewasa, karena itu cara penyampaian serta gaya penulisan “kental” dengan nuansa kedewasaan. Sementara buku Asma untuk kalangan muda, sangat gaul dan , walau isinya serius, namun disampaikan dalam bahasa yang ringan, tepat sasaran dan tidak berpanjang-panjang.
Pemilihan jenis huruf yang berbeda untuk cara bertutur yang berbeda, juga memberi nilai tambah tersendiri. Misalnya ketika ada bagian cerita yang sedang diselesaikan Arini, penulisan tentang hasil survey, surat elektronik, dan lainnya, memberi penekanan pada pembaca bahwa bagian itu bukanlah penuturan “biasa” dalam novel ini.
Selain itu, dalam buku ini, Asma tidak banyak “berdakwah” tentang topik-topik Islam. Beberapa materi Islami disajikan dengan “tipis” walau tidak mengurangi inti muatan. Cobalah kaji kembali pembahasan Asma di sini mengenai ikhwan dan akhwat, ta’aruf, pergaulan muda mudi Islami, dan tentu saja poligami itu sendiri. Cara pembahasan “melayang” seperti ini tentu berbeda dengan yang dilakukan Asma ketika ia menulis tema Islami dalam buku-bukunya yang memang ditujukan untuk menyampaikan materi tersebut. Misalnya buku Asma yang berjudul “Jangan Jadi Muslimah Nyebelin” atau “Jilbab Pertamaku”. Ke dua buku ini juga dapat menjadi contoh buku Asma yang sangat remaja.
Dari covernya , “Istana Kedua” tampil menarik, dewasa, menyentuh dan mewakili judul maupun isi. Ilustrasi jendela hias yang dilewati rambatan bunga mawar dapat diartikan sebagai jendela istana yang cukup tinggi. Indah namun sekaligus “berbahaya” dengan adanya duri dari bunga mawar. Analogi cerdas untuk situasi yang dialami Arini dan Mei Rose.
Dari segi tema, Asma dengan keyakinan penuh berhasil menyampaikan tema poligami, yang belakangan ini akrab menyapa masyarakat Indonesia, lengkap dengan pro dan kontranya, dari sudut pandang yang berbeda dengan tulisan-tulisan lain yang kebanyakan menyoal poligami dari sisi setuju atau tidak. Asma memotret poligami dari sudut pelakunya, dari sudut “permaisuri istana pertama”, dan dari sudut “ratu istana kedua”. Lengkap dengan problematika masing-masing.
Masalah masing-masing tokoh membuat buku ini menjadi “kaya” akan ekspresi emosi dan penuh “warna”. Dari sisi psikologis, Asma berhasil membuat tiap tokoh kuat secara karakter, dan terutama berperilaku sesuai dengan kondisi psikologisnya. Sungguh, ini menjadi kelebihan yang sangat berarti bagi novel ini. Tentunya, keberhasilan penokohan ini bukan kebetulan. Saya pribadi yakin, Asma tentu membangun tokoh-tokohnya setelah melalui riset literatur atau pengamatan yang tajam dalam kehidupan sehari-hari.
Jujur saja, novel Indonesia seringkali mengabaikan konsistensi dan kewajaran karakter tokohnya. Tak jarang, seorang tokoh yang digambarkan berkepribadian A tapi berperilaku B. Atau, seorang tokoh yang berperilaku C diceritakan melakukan suatu tindakan tertentu “hanya” karena D. Dipandang dari sisi psikologi, hal-hal tersebut seringkali mustahil dan sangat mengganggu jalan cerita.
Tapi Asma tidak demikian. Setiap tokohnya digambarkan dengan rinci dan konsisten, dengan gambaran kepribadian yang jelas dan kuat, sehingga terangkai perkembangan kepribadian tiap tokoh yang logis. Perubahan tingkah laku yang mungkin terjadi dari pemaknaan peristiwa yang terjadi pada masing-masing tokoh menjadi sangat masuk akal. Sedikit “bocor” pada tokoh Arini dan Pras, namun secara keseluruhan penokohan Asma boleh diacungi jempol.
Tokoh Arini, sentral utama, “permaisuri Istana Pertama”, dilukiskan sebagai wanita Jawa yang taat beribadah, penuh mimpi dan tipe wanita, istri, dan ibu yang setia dan mengabdi untuk keluarganya. Karenanya dapat dimaklumi ketika Arini membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menerima kenyataan bahwa pengabdiannya dikhianati.
Sedikit ganjil adalah ketika Arini, yang tipe kepribadiannya penuh dengan khayalan dunia dongeng, berpikir sesuatu yang serius menghadapi pernikahannya. Apalagi di halaman 33, dijelaskan bahwa Arini menggunakan istilah-istilah dongeng dalam kesehariannya; pangeran dan putri untuk mengganti ikhwan dan akhwat, kuda untuk mengganti motor, dan kereta kencana untuk menggantikan angkutan umum. Walaupun keterangan ini digunakan untuk menegaskan kecintaan Arini terhadap segala hal yang berhubungan dengan dongeng, tapi pada kenyataannya penjelasan ini hanya menguatkan kesan “tidak matang” pada diri Arini. Saya ebih cenderung mengatakan bahwa penggunaan istilah dongeng dalam kehidupan Arini seperti yang dijelaskan di atas terlalu berlebihan, terkesan dibuat-buat, dan tidak penting. Hematnya penjelasan ini dapat dihapuskan.
Penekanan lain tentang kecintaan Arini pada dunia dongeng tampak dari kata “Istana” yang di”pinjam” Asma dari tokoh utama ini. Memang, “keterikatan” Arini dengan dongeng terasa amat ditekankan, terutama di bab-bab awal. Walaupun pada awalnya hal ini menjadi semacam sikap konsisten Asma atas jalinan cerita dengan dongeng dan judul yang diambil, namun lambat laun, hal ini terasa berlebihan. Seperti juga pengulangan penjelasan bahwa Arini adalah seorang penulis, pada kenyataannya, ini memberi efek membosankan bagi pembaca.
Tokoh selanjutnya adalah Pras. Lelaki yang digambarkan setia,”lurus”, namun kemudian terjebak poligami karena kebaikan hatinya sendiri. Tidak ada yang luar biasa dari sosok Pras yang digambarkan. Pertanyaan timbul ketika cerita sampai pada saat Pras “terjebak” menanti Mei Rose melahirkan, dan mengapa Pras masih berada di rumah sakit saat Mei Rose siuman, atau mengapa Pras juga ada di kamar rumah sakit Mei Rose setelah Mei berusaha bunuh diri untuk ke dua kalinya. Pertanyaan terbesar justru muncul ketika pembaca menyadari bahwa Pras membawa Mei ke rumah sakit, bahkan menunggui Mei melahirkan, tanpa menghubungi istrinya! Padahal, kejadiannya bukan semenit dua menit. Padahal ini sudah jaman telepon genggam. Padahal juga di pertengahan cerita, diungkapkan betapa setianya seorang Pras. Hingga, ketika ia masih pria lajang, kalimat-kalimat cinta pun ia bukukan khusus untuk calon istrinya, karena tak mau istrinya menerima pernyataan cinta yang pernah ia berikan pada wanita lain! Maka aneh rasanya jika seorang Pria seperti Pras berlama-lama dengan wanita yang bukan istrinya, bukan muhrimnya, dalam keadaan luar biasa, dapat melakukannya tanpa menghubungi istrinya.
Atau memang seorang Asma Nadia ingin menunjukkan pada pembaca, bahwa laki-laki, bagaimanapun juga, tetaplah seorang laki-laki. Seperti kucing yang diberi ikan, pasti akan diambilnya.
Tokoh ketiga, “penguasa istana kedua”, Mei Rose. Asma menggambarkan karakter tokoh ini dengan begitu detil, penuh “warna”, sarat derita sekaligus sangat kuat. Gaya penuturan untuk Mei jauh berbeda dengan gaya tutur yang dilakukan Asma pada Arini maupun Pras. Sekali lagi, ini membuktikan kehebatan Asma sebagai penulis serba bisa. Menarik untuk mengikuti perjalanan hidup Mei dan selanjutnya kisah perjalanan itulah yang akan membuat pembaca memahami perilaku Mei.
Kejutan pertama diberikan Asma di halaman 58. Emosi pembaca yang sudah terbangkitkan dengan semangat bahagia, terempas situasi mencekam yang terjadi. Selanjutnya, di bab delapan, Asma kembali mampu membuat perasaan pembaca tercabik-cabik membaca jalan hidup Mei Rose. Walau demikian, ada pergulatan batin Mei yang digambarkan mengalir dan sangat wajar di bab sebelas. Namun, tampaknya, kehidupan Mei Rose memang selalu membuat pembaca merasa “tertekan”, menahan nafas, dan tersentak oleh penyelesaian yang luar biasa,(seperti pada halaman142 dan berakhir di halaman 148). Di halaman-halaman itu Asma kembali menggambarkan salah satu episode dramatis yang dialami Mei Rose dengan cepat, mencekam, tragis. Sempurna.
Satu lagi yang perlu dicatat sebagai kelebihan Asma adalah ketika ia menceritakan tentang keganjilan perilaku David di bab delapan. Tanpa perlu berpanjang-panjang, Asma mampu mengangkat satu penyimpangan perilaku yang masuk akal dan membuat pembaca mengerti kemungkinan penyebab dibalik tingkah laku tersebut. Seperti juga penggambaran karakter tokoh lainnya dalam cerita ini, tak mungkin bentuk perilaku tidak normal David digambarkan Asma tanpa riset terlebih dulu. Satu pembuktian yang disajikan secara santun, dan mungkin tak disadari banyak orang namun justru menunjukkan kelebihannya. Khas seorang Asma.
Di luar cara penulisan dan penokohan yang telah disebutkan di atas, ada hal-hal lain yang menarik untuk dikomentari pada buku ini. Sehubungan dengan judul dan tema buku, agak mengherankan mengapa Asma tidak menuntaskan penjelasan mengenai poligami secara tuntas dalam satu bagian. Tentu Asma mempunyai alasan tersendiri untuk memilih menjelaskan konsep poligami secara tersirat pada halaman 101, yang memungkinkan timbulnya interpretasi berbeda-beda pada pembacanya, dan tidak menggabungkannya dengan penjelasan pada halaman 223 sampai 225.
Selanjutnya, yang menarik untuk dikomentari adalah masalah wanita, istri dan atau ibu yang dikemukakan di buku ini. Dalam kaitannya dengan rasa percaya diri wanita, istri dan ibu, serta hubungannya dengan penyebab seorang suami berpaling pada wanita lain atau menjadi pelaku poligami, adalah melulu mengenai berat badan (kegemukan atau tidak), perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan, dan bagaimana seorang istri atau ibu tidak atau kurang merawat diri setelah mempunyai anak karena sibuk mengurus anak dan rumah tangga.
Begitupun dengan pihak suami. Memasalahkan hal yang sama. Apakah sebegitu “dangkal”nya cinta seorang suami pada seorang wanita yang sudah menjadi istrinya, ibu dari anak-anaknya, hanya diukur sebatas fisik ? Hal ini tersurat dalam banyak bab di novel ini. Terutama pada pembicaraan teman-teman kantor Pras yang “memanas-manasi” Pras untuk melirik wanita lain, berkisar seputar perubahan tubuh istrinya sebelum menikah dan setelah memiliki anak. Atau menyalahkan istri yang tidak mampu merawat tubuh dan menjaga penampilan karena sibuk mengurus anak, suami dan rumah tangga, dan seterusnya.
Apakah benar hanya ini masalah yang potensial membuat para suami berpaling atau menjadi pelaku poligami ? Apakah tidak terlalu “kejam” seorang suami menilai istri dan ibu anak-anaknya hanya dari tampilan fisik ?
Kalau saja masalah berat badan dan bentuk tubuh sedikit ditambah dengan masalah-masalah lain yang lebih “berat” dan lebih “dalam”, yang potensial menjadi penyebab seorang suami berpoligami, atau paling tidak membuat seorang suami tergoda wanita lain, tentu cerita ini akan lebih menarik dan berarti.
Hal menarik lainnya adalah kesimpulan yang diambil Arini tentang perniahan suaminya. Arini berpendapat bahwa bagaimanapun, jika suaminya menikah lagi, maka Arini dan anak-anaknya tidak dapat mencegah. Apakah benar demikian ? Bukankah, paling tidak, jika pun Arini mengetahui hal ini setelah terjadi, Arini dapat mengajukan keberatannya, tidak saja pada istri ke dua suaminya, tapi juga terhadap suaminya sendiri ?
Poin lain yang juga menarik dalam porsinya yang kecil dan bersifat sebagai “tambahan” adalah pemikiran Asma yang tertuang pada halaman 27 dan 28, ketika Asma, sebagai tokoh Mei Rose memberikan suatu sudut pandang berbeda tentang tujuh orang kerdil dalam cerita putri salju. Unik dan orisinil.
Satu masukan untuk Asma, beberapa kata-kata dalam bahasa Chinese kiranya dapat diberi catatan kaki untuk artinya.
Lepas dari itu semua, ada hal penting yang bisa didapatkan pembaca dengan membaca “Istana Kedua” karya Asma Nadia ini. Pembaca akan belajar bahwa dibalik setiap tindakan manusia, pasti ada alasan yang menyebabkan seseorang berlaku demikian. Mei Rose seolah sudah tidak normal lagi dengan meminta seseorang menjadi suami part timer bagi dirinya, tanpa perlu menafkahi lahir batin. Tapi, ketika pembaca sudah “mengenal” Mei Rose lebih jauh, walau pahit, pembaca akan mengerti mengapa ia berbuat demikian, tanpa pembaca perlu menyatakan pendapatnya.
Poin kedua adalah pentingnya berkomunikasi dan keberanian menyatakan pendapat. Dengan dua hal ini, maka seseorang tidak akan berlarut-larut dalam masalah. Situasi tidak menyenangkan dapat segera tertangani .
Jika saja Arini berani menanyakan kebenaran situasi yang ada sejak awal ia mengetahui adanya masalah, ia tak perlu berlama-lama berkubang dalam suasana hati gundah gulana. Kepastian, walau mungkin menyakitkan, tentu akan lebih baik daripada ketidakpastian. Dengan kepastian, Arini dapat segera menata hati dan pikirannya untuk menjalani kehidupan.
Demikian pula dengan Pras. Jika saja Pras berani mengkomunikasikan situasi yang ia hadapi, tentu ia tidak akan “terperosok” lebih jauh dalam “jurang” kesalahan.
Poin ketiga adalah kemampuan seseorang untuk belajar dari kehidupan dan tidak membuat kesalahan yang sama. Mei Rose adalah tokoh yang tepat menggambarkan sosok seseorang yang jatuh bangun menjalani kehidupannya. Ia belajar untuk tidak mengalami penderitaan yang pernah ia jalani. Kalaupun kemudian ia menjalani kehidupannya dengan cara yang dipandang miring oleh banyak orang, paling tidak, Asma “memaksa” pembacanya untuk, memahami alasan Mei Rose mengambil langkah tersebut, tanpa perlu memberikan penilaian.
Dari pembahasan di atas, maka, kita paham bahwa novel Istana Kedua karya Asma Nadia ini mampu memberikan “warna” lain tentang poligami. Tidak menuntut pembaca untuk memberikan persetujuan atau ketidaksetujuan, tapi memberikan kesempatan pada pembaca untuk memiliki satu potret lengkap poligami. Suatu cerita yang lebih pantas disebut sebagai bahan renungan kehidupan daripada novel hiburan biasa.(DMA/A08)